Perbandingan
Terdapat perbandingan cukup jelas antara aku dan kakak iparku yang perbedaan umur kita ga jauh (beda setahun).
Apa?
Aku yang masih sendiri (calon pun belum ada wk).
Dan dia yang di amanahkan langsung 2 orang anak setelah menikah.
Awalnya aku iri. Iri banget lah.
Dia bisa ketemu pasangan hidupnya di umur yang 'wajar' menurut aku.
Tapi pas aku seumuran dia, bahkan lebih dari itu, aku masih sendiri.
Sampai aku sering mikir apa aku ga se-worth it itu untuk dimilikin seseorang?
Sering banget overthinking.
Liat sekitar yang sibuknya udah dengan pasangan dan keluarga kecilnya.
Tapi aku masih sibuk di kerjaaaa aja terus.
Sampai suatu saat pas abang pulang ke rumah bawa keluarga kecilnya.
Sampai saat itu aku baru merasa sedikit lega.
Riweuh juga.
Ngurus 2 orang anak sekaligus. Yang bahkan mereka pun awalnya ragu apakah bisa mengurus amanah yang dikasi ke mereka itu?
Tapi aku selalu meyakinkan abang kalau udah di amanahkan Allah swt sesuatu, ya Allah swt udah menjamin kelancaran atas sesuatu itu juga. Dah. Titik. Allah swt langsung yang jamin soalnya.
_
Oke back to 'perbandingan'.
Jadi ya aku jadi mikir aja sih.
Kan ada istilahnya tuh kalo rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau.
Nah. Aku memang iri dengan kakak iparku.
Karena dia bisa ditemukan oleh pasangannya dengan lebih cepat.
Hidup bahagia.
Langsung dikasi anak setelah menikah.
Pokoknya udah ada partner hidup lah (hal ini sih yang paling bikin aku overthinking).
Tapi.
Tapi nih.
Bisa aja kan kalo kakak ipar aku juga iri sama aku?
Bisa dong.
Kenapa?
Ya aku mikirnya bisa aja dia masih pingin ngejar karir dia dulu.
Bisa aja dia masih pingin bebas hangout atau nongki ngobrol tawa-tawa sama temen-temennya tiap hari libur.
Bisa aja dia masih pingin ngurusin hidupnya, bersenang-senang, me time, atau apapun lah yang sekarang jadi terbatas buat dia lakuin.
Karena ternyata ngurus 2 anak bikin dia harus melepas kerjaannya.
Karena ternyata punya 2 anak bikin dia harus lebih care dengan segala hal tentang anak-anaknya ketimbang ke hal pribadinya.
Karena ternyata dia hanya bisa keluar rumah kalau diajak abang atau orang tua atau saudaranya.
Nah. Sekarang. Dengan case di atas. Apa yang harus masing-masing lakukan?
Iya! Bersyukur!
Bersyukur dengan segala hal yang udah kita punya.
Bersyukur dengan segala hal yang lagi di amanahkan ke kita.
Atau bersyukur dengan tertunda atau hilangnya suatu hal dari hidup kita.
Kenapa?
Karena itu semua udah skenario dari Allah swt.
Kita dianggap mampu makanya kita di amanahkan sesuatu.
Kita dianggap belum mampu makanya beberapa hal tertunda atau lewat begitu aja di hidup kita.
Intinya.
Stop membandingkan hal-hal yang tidak seharusnya kita jadikan perbandingan.
Fokus terhadap segala hal yang udah Allah swt kasi. Yang udah ada di hidup kita. Jalani itu.
Akan ada saatnya semua hal yang belum kita punya, yang belum kita dapatkan, hal yang kita impikan, akan Allah swt datangkan pada kita dengan cara Allah swt yang ngga akan kita sangka.
Husnuzhon.
Kita hanya makhluk-Nya yang diperintahkan olehNya untuk patuh, ikutin alur yang telah Ia buat, nikmatin hasilnya saat Ia membalas semuanya nanti.
Percaya sama Allah swt.
Harus percaya.
Percaya kalau semua hal udah Allah swt atur sebaik mungkin untuk kita.
Komentar
Posting Komentar