Untuk Zia
Hai, Zi!
Terima kasih atas segala kekuatan yang sudah kamu kerahkan.
Terima kasih untuk terus semangat (yang mungkin awalnya entah datang dari mana), yang membuat kamu tetap bisa bertahan.
Siapa yang menyangka, setelah hampir setiap hari menangis karena takut mati 2 tahun lalu, detik ini kamu masih bisa bernapas lega?
Ke-'tidak mungkin'-an yang kau bayangkan selama ini ternyata masih dapat kau wujudkan.
__
Terharu sekali rasanya kalau mengingat perjuangan hidupku beberapa tahun lalu.
Harus bersabar menerima kenyataan karena tiba-tiba diuji dengan penyakit yang penuh perjuangan untuk disembuhkan disaat sedang berjuang naik ke tahap kehidupan baru.
Merasa tidak butuh lagi dengan kesenangan dunia.
Baju baru, make up baru, berubah jadi hal yang sangat tidak penting saat itu.
Yang aku butuhkan hanya kepastian.
Kenapa harus aku yang diuji dengan penyakit ini?
Gimana caranya aku sembuh?
Apa aku harus korbankan masa depan aku dengan adanya penyakit ini?
Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang selalu berputar-putar di kepala.
Mencari jawaban tapi tak ditemukan.
Sampai akhirnya hanya bisa menangis sesenggukan menerima kenyataan.
Saat itu aku sangat hancur dan jatuh ke bagian terbawah dalam hidup.
Harus berpura-pura kuat di depan orang tua dan saudara supaya mereka tidak ikut bersedih.
Yang padahal aku juga tau mereka-pun sebenarnya bersedih (yang juga mereka sembunyikan dariku).
Aku berdoa kepada Allah swt.
Ternyata Dia percaya kepadaku.
Aku kuat. Dia yang jamin.
Aku bisa menjalankan aktivitasku tanpa kendala. Dia yang beri.
Sampai akhirnya aku dinyatakan sembuh oleh perantaranya (dokter yang merawatku).
Padahal menurut perhitungan dokter, belum saatnya aku sembuh saat itu.
Waktu-Nya selalu pas.
Dia mencabut penyakit itu.
Aku telah lulus ujian yang Dia berikan.
Aku tidak menyangka ternyata kekuatanNya benar-benar menguatkanku.
Aku beruntung.
Aku sangat beruntung.
Terima kasih ya Allah atas kesempatan hidup yang masih Engkau berikan.
Terima kasih Zi kamu sudah berusaha dan bertahan sejauh ini.
Kamu boleh berpetualang jauh.
Tapi jangan sekali-sekali menjauh dari Dia.
Yang sudah sebaik ini denganmu.
Ayo mendekat.
Dekatkan lagi.
Jangan jauh-jauh.
Ps. Jangan tanyakan penyakit apa yang aku derita saat itu.
Akan ku ceritakan saat aku sudah berani menceritakannya.
Terima kasih atas segala kekuatan yang sudah kamu kerahkan.
Terima kasih untuk terus semangat (yang mungkin awalnya entah datang dari mana), yang membuat kamu tetap bisa bertahan.
Siapa yang menyangka, setelah hampir setiap hari menangis karena takut mati 2 tahun lalu, detik ini kamu masih bisa bernapas lega?
Ke-'tidak mungkin'-an yang kau bayangkan selama ini ternyata masih dapat kau wujudkan.
__
Terharu sekali rasanya kalau mengingat perjuangan hidupku beberapa tahun lalu.
Harus bersabar menerima kenyataan karena tiba-tiba diuji dengan penyakit yang penuh perjuangan untuk disembuhkan disaat sedang berjuang naik ke tahap kehidupan baru.
Merasa tidak butuh lagi dengan kesenangan dunia.
Baju baru, make up baru, berubah jadi hal yang sangat tidak penting saat itu.
Yang aku butuhkan hanya kepastian.
Kenapa harus aku yang diuji dengan penyakit ini?
Gimana caranya aku sembuh?
Apa aku harus korbankan masa depan aku dengan adanya penyakit ini?
Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang selalu berputar-putar di kepala.
Mencari jawaban tapi tak ditemukan.
Sampai akhirnya hanya bisa menangis sesenggukan menerima kenyataan.
Saat itu aku sangat hancur dan jatuh ke bagian terbawah dalam hidup.
Harus berpura-pura kuat di depan orang tua dan saudara supaya mereka tidak ikut bersedih.
Yang padahal aku juga tau mereka-pun sebenarnya bersedih (yang juga mereka sembunyikan dariku).
Aku berdoa kepada Allah swt.
Ternyata Dia percaya kepadaku.
Aku kuat. Dia yang jamin.
Aku bisa menjalankan aktivitasku tanpa kendala. Dia yang beri.
Sampai akhirnya aku dinyatakan sembuh oleh perantaranya (dokter yang merawatku).
Padahal menurut perhitungan dokter, belum saatnya aku sembuh saat itu.
Waktu-Nya selalu pas.
Dia mencabut penyakit itu.
Aku telah lulus ujian yang Dia berikan.
Aku tidak menyangka ternyata kekuatanNya benar-benar menguatkanku.
Aku beruntung.
Aku sangat beruntung.
Terima kasih ya Allah atas kesempatan hidup yang masih Engkau berikan.
Terima kasih Zi kamu sudah berusaha dan bertahan sejauh ini.
Kamu boleh berpetualang jauh.
Tapi jangan sekali-sekali menjauh dari Dia.
Yang sudah sebaik ini denganmu.
Ayo mendekat.
Dekatkan lagi.
Jangan jauh-jauh.
Ps. Jangan tanyakan penyakit apa yang aku derita saat itu.
Akan ku ceritakan saat aku sudah berani menceritakannya.
Komentar
Posting Komentar